Mitos Partitur, 1

: buat Esthi Ayu Febriani

1
sebermula adalah gugu
atas hitam dan putih nasib
pada panjang bilah piano
: di warna apa ia berhenti?

2
kau jauh mengerti, tentang
partitur yang seolah puisi
nada yang seolah silabis
juga aku yang seolah aku

3
ada denting yang kauseret
entah dari mol atau kres
: itu setengah mengertiku
yang menjelma dari bunyi

4
yang tak terlacak dari siapa
dulu terpahat di baris epitaf
yang tak terlacak dari suara
kausamarkan jadi kata-kata

5
betapa tinggi-rendah nada
seperti lenting tanda tanya
mungkinkah lengkung itu
muasal bentuk daun telinga?

2017

Malai Ombak

dengarkanlah. desir itu angin yang piatu
setiap pagi ia selalu mampir di haluan
menjemur mumur mimpinya yang basah

aku tak tega menolaknya. walau pelayaran
ke uban rambutku sering diserbu sakal
dan ngilu ini ia tumpuk di buritan

rahasiakanlah. bahwa mataku telah buta
tak ada kompas atau langit yang bisa kubaca
hanya kau kubiarkan menimangku begini

“dan pada laut ia menduga:
buih yang sampai di anjungan
apakah itu airmata, atau
lantun doa yang lupa ia ucapkan?”

2017

Mencari Han

  “Pingkanku sunyi yang mana?
  apakah yang kuseret dari meja bar
  setiap malam?”
belum adakah suratku sampai
ke alamatmu yang kencang berlari?
setiap langkah menabrak semak sepi
ada maki mulut ke lidah  sendiri
ke mana jujuh mimpi ini, Han?
deras sungai hanya menerima perahu
bukan sejarah orang-orang kalah
2017

Menaksir Pingkan

meja bar mengantarkan percakapan
para kelasi, menuju sepi siaran sepak bola
dari negeri-negeri bersalju. mudah-mudahan
hitungan gol tadi seseloki wiski.

“di kepala Han, arakan lembu diam-diam
meramaikan alun-alun kota. dongengan itu
seperti bulan di dekap-pangkuan Pingkan
yang sudah lama sekali dirindukannya.”

maka dengan dada gemetar, palayaran itu
dimulai sekali lagi. para kelasi rangsek
ke pintu palka, dan mengecat dermaga
dengan warna ubur-ubur beracun.

“di kepala Han, lembu-lembu menjelma
malaikat. sayapnya merengkuh balita
yang baru belajar berjalan, enam jam
dari wajah Pingkan yang ketakutan.”

di luar perjumpaan, langit masih biru
namun rindu tetap abu, seperti sebatang rokok
yang tak pernah dihisap setelah dinyalakan.

masuk ke dalam Pingkan, asap-asapnya kejutan
hadiah ulang tahun, memenuhi liang dan rongga
yang belum pernah disentuh kabut manapun.

2017

Yang Tak Diduga dari Tali Sepatu

“yang hinggap di pucuk cemara
ia saksikan sebagai sabit bulan
sedang menghentikan kepakannya
: asmarakah menguncup perlahan?”

*

padahal malam pasti menelan jalan
cahaya selain guguran jejak bintang
di samping duduk dan tendanya

ini waktu yang tepat menurunkan
beban yang dipikul mula perjalanan
sebelum sepatunya itu berteriak

dan di hutan tak ada tukang urut
yang bisa meluruskan kilir nasib
selain tatap kakinya sendiri

sebab telah lama ia pahami
bahasa pergi dan kembali
dari kata langkah dan rumah

namun ketika ia berhadapan
dengan kata lari dan henti
malah kakinya yang terbelit

tali sepatunya sendiri

2017

Tenggelam

meminjam perahumu dari lautan
aku labuh di sengkuap ombak:

alangkah tabah
batu karang menerima sejarah
renyukan pintu palka
dari abad-abad yang luka

meski tahu,
ambang
angkur
dan teriakan para kelasi di buritan
telah lama tenggelam ke dasar palung

sampai ingatan tentang karam tergulung
dan tangan-tangan mengulang lambaiannya sendiri
di pantai
di dermaga
apakah ombak yang kulabuhi akan berhenti
atau malah kembali?

2017

Impresi Relief, 1

setelah kaki-kakinya lintuh
sebab abad disengati matahari
maka berhentilah sebuah konon
pada kira-kira yang ganjil:

di sudut sebelah mana
pada candi tak berpintu
mula langkah yang pertama?

di langkah yang keberapa
anak panah menabrak alur hujan
hingga hitungan tak lagi penting?

angka-angka meledak di angkasa matamu
mumur pecahannya berhamburan
menyelisip di sela relung
rahim sebuah bahasa

namun tak ada satu pun kita
yang mampu mengucap seutuh kata

2017