Kembang Api

puisi adalah nyala kata
yang memancar di tangan sendiri
melukai penyairnya sendiri
kau jatuh bersimbah
: bunga api dan asap pelangi.

puisi adalah ledakan frasa
di kelindan udara yang menyamar
jadi napasmu, penyair
dan kau jatuh lagi
: di ranjang bunyi-kata-makna.

di matamu
di langitku
kita jadi puisi
: hidup, lalu mati

terkenang di matamu
terngiang di langitku.

Solo, 2017

Advertisements

Nelayan, Badai yang Selesai

: Kapal – Zaini

selesai badai, perahuku terdampar
di sebuah pantai
yang akan segera kuberi nama

hingga mimpi tentang karam datang lagi
mengantarkan buih-buih asin laut
seperti tajam ombak
yang merobek-robek selimutku

namun sayang, semoga kau paham:
sisa layar yang kini kujadikan selimut
di hamparan namamu ini
(barangkali) tak akan sanggup terkembang

membawa pulang kabar yang kaunantikan

2017

Boarding Pass

“telah kaubenamkan cemas-resah itu
ke dalam seisi bagasi. kaukemasi banyak rindu
kaulipat-selipkan di antara tumpukan bajumu.”

kelak, nama-nama jalan, makanan
hingga yang artinya “selamat datang”
adalah seasing-asingnya bahasa

sebab seluruh kata
yang biasa kaueja-baca-tuliskan
telah tertinggal diseucap “selamat jalan”

yang melambai-lambai setelah memelukmu
dan melepaskannya di sebuah ruang tunggu

bandara kota kelahiranmu

2017

Adegan: Sebelum Kita Masuk Ke Dalam Bioskop; Setelah Aku Menemuimu Di Pintu Masuknya

“seorang perempuan yang tadinya duduk tiba-tiba berdiri
setelah memasukkan telepon genggamnya ke dalam tas
wajahnya tenang, senyumnya mengembang
ia tahu siapa yang akan muncul dari balik pintu itu.”

ia paham makna kata gelebah
sedangkan aku harus memohon
supaya kau mencarinya
di kamus bahasa kita:

dengan tata-paling-krama
dengan sopan-paling-santun
dengan lisan-paling-tulisan
dengan acap-paling-ucap

dan kita masih sederet gambar bergerak
— yang sedang menyaksikan sederet gambar bergerak
— yang juga menyaksikan sederet gambar bergerak

2017

Juru Dongeng yang Tersesat

“sebelum luka tunai menjadi kata, aku akan terus sibuk
menyusuri nasib, di dasar laut andai-andai.”

“kapal siapa karam di situ?” tanyamu, sepulang
dari acara resepsi penikahan kawan lamamu itu:
angin dan laut

kulihat palkanya menganga;
itukah canting yang mencetak
selendang batik bermotif ombak?

kemudinya lepas dan jangkarnya entah ke mana;
barangkali dicuri dan dijual sebagai sepasang perhiasan:
anting yang berat dan bros yang licin

“mempelai tadi sungguh menawan, aku teringat pernikahan kita dulu.”
ujarmu sembari perlahan melepas gaun-sisik-ikan berlubang lengan empat:
sepasang untuk angkuh tanganmu, sepasang untuk kepak kuasamu

sebagai titisan dewata, kau mampu memberiku sepasang insang
juga sepasang kutukan:

satu untuk wujudku yang komodo — namun berinsang
satu untuk kesabaranku yang maha laut — yang maha napas

di dasar laut ini, pernikahan kita dicatat sebagai dongeng
aku adalah legenda, dan engkau adalah maha legenda
dan para nelayan sudah tuntas mengemas kenangan
sebab takut berziarah di makam nenek moyangnya sendiri

“di laut andai-andai
kau tetap seorang komodo
dan ia masih seekor bidadari.”

2017

Meditasi Samudra

akulah yang harus mengantarakan nasib
perahu:

maka siapa ingin jadi ombak?
maka siapa berperan angin?
maka siapa rela jadi ikan-ikannya?

lantas siapa yang mau jadi nelayan?

di kamus laut, huruf-huruf menghitam
seperti jasad ketam yang tergeletak
di licin lidah ombaknya

ada yang tergelincir ke dasar palung
karam ditindih buih-buih waktu
rutin diziarahi musim

sementara nasib adalah kata
yang ihklas melayari tubuhku
ia dayung huruf-hurufnya sendiri

sebab semua pantai adalah sejarah
yang menerima labuh perahu:

menyusun kembali pecah ombak
mengelindankan angin dan dendang sajak
menerima riwayat ikan-ikan

dan menjagamu; sepasang nelayan yang
dihidupi lautku

2017