Ia Chairil Generasi 90-an

/1/

ia bukan teroris dengan bom di ransel
baginya pintu pemeriksaan selalu menyeramkan
dilihatnya sepasang penjaga memanggul masing-masing
sebuah gada raksasa berkepala tanda tanya

pun di saku celananya, tak ada yang macam-macam
selain koin seperti milik Two-Face di film Batman
supaya korek apinya tak jadi ikan asin sebab
sering sisa sebatang rokok di bungkusnya

ia belum juga merencanakan turun di mana
stasiun-stasiun yang semakin mengecil itu bagai
tatapan Izrail dari ujung langit yang membidik
ranjang di bangsal pneumonia sebuah rumah sakit

“Hopla!”
memang, tak dibelinya karcis itu, ia kelabui
penjaga tadi dengan trik ala Copperfield
yang autodidak dipelajarinya dari YouTube

/2/

begitulah,
nasib selalu menentengnya
di dalam keranjang anyam

seperti,
ketika ia
sedang tak punya uang
dan sangat menginginkan
buku terbaru Penyair Sapardi
yang sialnya terbit sekali tujuh!

lalu dengan setelan perlente
rambut klimis berpomade
ia sangat pede
merayap ke rak sastra
sebuah toko buku

“Hopla!”
berhasil ia kelabuhi mata paling tuhan
yang menyapu-pandang ke seisi
ruangan paling surga

/3/

namun sungguh sial sekali lagi
cacing di perutnya harus bisa ia ajak kompromi
ia tak akan sampai hati
bila harus mencuri di warung nasi
yang punya pramusaji mirip sekali
dengan mantan pacarnya

ia baca saja duka-Mu abadi
sambil membakar rokok terakhir tadi
dan di kepalanya berkelindan kata-kata:

“Aku ini binatang lajang a.k.a jomblo
Bila tak jua merdeka dari Ida
Aku mau sebats 1000 batang lagi!”

2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s