Reverse: Beberapa Lembar Potret Ayah

: untuk Bunga Ramadani

/1/

malam lesap seperti yang sudah-sudah
menjauhkan mata air dari langkah si musafir
yang sebenarnya tak pergi lebih jauh dari
jengkal halaman rumahnya sendiri

di halaman itu pagi datang bersama bara api
dan abunya menunggu disapu hujan yang sebentar
itulah mengapa ia merasa selalu jauh dari
alamat yang sebenarnya tak pernah ia tinggalkan

/2/

rentang kafan memerban seluruh perih-luka di kakinya
dan ia terus berjalan. ia susuri album lama itu
sampai di sebuah selasar potret dirinya

di album itu ia lihat gitar kesayangannya
dulu pernah ia paksa buku jari anak laki-lakinya
melipat diri berkali-kali; menakik perih-luka lagu cinta

ia menekuri dasawarsa yang pergi; apa-apa saja
yang pernah tinggal: semisal, jingle iklan-televisi
merk sabun mandi yang ia pakai terakhir kali

/3/

“Itu apa yang ayah tanam?”

“Pohon murbei, nak. Supaya kau mengerti
bahwa yang hitam tak selalu buruk.”

“Itu apa yang ayah buat?”

“Ayunan, nak. Supaya kau bisa merasakan
mabuknya diombang-ambingkan gelombang.”

“Itu apa yang ayah lukis?”

“Senja, nak. Supaya kau pahami
kelak kita harus bisa saling mengikhlas-lepaskan.”

2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s