Tragika Motor Tossa

 : untuk Rendy Wijaya

ia bukan anak TK
yang akan bersenandung
naik-naik ke puncak gunung
bila motor Tossa-nya melewati
tanjakan yang kiri-kanannya
hutan penuh cemara

ia sekarang penyair
yang bisa menaruh Beruang dan pemburu;
mengadu deru mesin dengan bising peluru
di kesunyian hutan itu

ia sekarang penyair
menyimpan bermacam kata di saku celana;
semisal: “maaf mas, nggak ada receh,”
saat ia bersitatap dengan polisi cepek
yang minta sumbangan perbaikan jalan
di ujung tanjakan tadi

namun penyair masih manusia
yang tentu bisa saja lupa;
semisal: motor yang ditungganginya roda tiga

ia terlalu sering mengakrabi kata
dan melupakan juga rumus peluang
yang dipelajarinya di bangku kuliah dulu
hingga roda-ban belakang kiri motornya
menyambar tajam kerikil
yang menyamar jadi peluru si pemburu

motornya oleng dan meluncur bebas
ia hantam sebatang cemara
Tabung-tabung yang ternyata ia angkut meledak
dan serpihannya melukai Beruang tadi;
darahnya kucur hampir habis;
sekarat

ia mengutuk kelalaiannya sendiri

: “sial, ada yang belum kuganti. kampas!”

2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s