Juru Dongeng yang Tersesat

“sebelum luka tunai menjadi kata, aku akan terus sibuk
menyusuri nasib, di dasar laut andai-andai.”

“kapal siapa karam di situ?” tanyamu, sepulang
dari acara resepsi penikahan kawan lamamu itu:
angin dan laut

kulihat palkanya menganga;
itukah canting yang mencetak
selendang batik bermotif ombak?

kemudinya lepas dan jangkarnya entah ke mana;
barangkali dicuri dan dijual sebagai sepasang perhiasan:
anting yang berat dan bros yang licin

“mempelai tadi sungguh menawan, aku teringat pernikahan kita dulu.”
ujarmu sembari perlahan melepas gaun-sisik-ikan berlubang lengan empat:
sepasang untuk angkuh tanganmu, sepasang untuk kepak kuasamu

sebagai titisan dewata, kau mampu memberiku sepasang insang
juga sepasang kutukan:

satu untuk wujudku yang komodo — namun berinsang
satu untuk kesabaranku yang maha laut — yang maha napas

di dasar laut ini, pernikahan kita dicatat sebagai dongeng
aku adalah legenda, dan engkau adalah maha legenda
dan para nelayan sudah tuntas mengemas kenangan
sebab takut berziarah di makam nenek moyangnya sendiri

“di laut andai-andai
kau tetap seorang komodo
dan ia masih seekor bidadari.”

2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s