Meditasi Samudra

akulah yang harus mengantarakan nasib
perahu:

maka siapa ingin jadi ombak?
maka siapa berperan angin?
maka siapa rela jadi ikan-ikannya?

lantas siapa yang mau jadi nelayan?

di kamus laut, huruf-huruf menghitam
seperti jasad ketam yang tergeletak
di licin lidah ombaknya

ada yang tergelincir ke dasar palung
karam ditindih buih-buih waktu
rutin diziarahi musim

sementara nasib adalah kata
yang ihklas melayari tubuhku
ia dayung huruf-hurufnya sendiri

sebab semua pantai adalah sejarah
yang menerima labuh perahu:

menyusun kembali pecah ombak
mengelindankan angin dan dendang sajak
menerima riwayat ikan-ikan

dan menjagamu; sepasang nelayan yang
dihidupi lautku

2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s