Saksi Mata

setelah suatu adegan bunuh diri
ada malaikat terkepung melankolia
ia terlunta di tajam mata pisau
yang telah kering darahnya

“antara aku dan plastik forensik
siapa yang paling pandai
mengetat-rapatkan rahasia?”

kematian tak boleh jadi rencana
: ujung jari semestinya tak bisa
meraba sidiknya sendiri

2017

Kelak Kau Akan Melupakanku

aku fragmen-fragmen dan metafora
tertinggal di puisi yang lupa kautuliskan
sampai ingatanmu jadi kecai-airmata
mumuran pagi yang pecah di mata-jendela

namun lupa akan mengingatkanmu
hingga namaku jadi sekerat cermin
memantulkan masalalu kita yang telanjang
sebelum kaukenakan gaun pengantinmu

“bukankah hidup memang pantulan-pantulan
bayangan hari-hari lalu yang ketakutan
mungkin pada bekas luka di wajah sendiri
yang disayat sepi-sunyi sendiri?”

2017

Lilin, 2

tahun-tahun itu tinggal asap
sejak namamu adalah lilin
maka terbakarlah itu
miniatur-miniatur doa

udara memikul gelembung nasib
waktu yang semakin memuai
kelak meletus seperti balon
yang selamanya tinggal empat

“tapi aku badut di pestamu itu
melipat-selipkan kenangan kita
jadi bulat-balon di perutnya
— tusuklah jika kauingin.”

2017

Lilin, 1

aku ingin percaya
meski jilat api itu panas;
bahwa kemarin
dan hari-hari sebelumnya
masih lelehan lilin
yang tak habis terbakar

“selamat bahagia dan bahagia…”

dengarlah sumbu itu ikut bernyanyi
tidakkah kau bertanya
mengapa liriknya ia ubah?

: nanti kita akan sama-sama tahu
siapa yang mati di ujung lagu itu

2017

Tirah dalam Darah

: Wing Kardjo Wangsaatmadja (1937 – 2002)

siasat duri-duri
masih cerdik memburu
telapak kaki hewan buas
yang kehilangan jejak darah
di padang tak bermusim

sejak purnama wajahmu
bayang yang merah-merah itu
menggelayuti keriput pipi
ada yang belum selesai
beristirah

“maka beri lagi aku
lilin yang tak leleh
dibakar api-api usia
juga bara yang tak hangus
jadi arang dosa-dosa.”

2017

Ode, Paul!

“As she posts another letter to the sound of five.
People gather ’round her and she finds it hard
to stay alive. It’s just another day.”
— penggalan lirik lagu Another Day (The Wings)
: Linda Louise Eastman (1941 – 1998)

/1/

istriku melahirkan sebuah kamera polaroid
tangis pertamanya raut wajah kami berdua
oek-oek-nya memekakkan telinga para lansia
yang telah ratusan tahun jadi mural gereja

/2/

“kemarin adalah telanjang kaki-kaki waktu
berjalan mencari sepatunya yang mungkin
tertinggal atau barangkali sepatu itu
belum pernah ia beli-miliki sama sekali

ia akhirnya sampai di halaman rumah kami
mengetuk ratusan kali pintu kayunya padahal
kami sendiri belum tentu tinggal di sana
— hanya ada rayapan rayap-rayap ketakutan

meneriakkan entah apa dalam bahasa mereka
mungkin kekhawatiran jika mereka tak akan
mengalami hari esok yang sesungguhnya lebih
melelahkan daripada lelap kematian, bukan?”

/3/

“As she was leaving…” —
airmata tumpah berkelana

2017