Di Atas Gerbong Lokomotif GWR 5900

subuh telah lama jatuh
dan ingatan kita melewati
lekuk-lengkung sajak yang sama
sebelum kabut matamu dipecahkan
gemuruh amin yang itu juga

bersebelahan di kursi penumpang
kita sudah bukan dua orang asing
yang dulu pernah malu-malu

lalu aku teringat sapa pertamamu
jawaban yang sama magis
seperti pesan ibu
di pekak telingaku

“hai, penyihir juga?”

“bukan, kita penyair!”

2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s