Di Utas Ayunan

: Ra

bergoyang ditimang ayunan, usia seperti pendulum
bahasa waktu yang tak mengenal angka dan jarum
mundur atau maju, masalalu dan masadepan, tak
mencatatkan jejaknya pada mula sebuah pijak

sebagai urut serat dan terpintal jadi tali ayunan
ingin kita, kata: yang genggam dan yang sagang
sepasang tangan menua, masih saling berpegang
setia menopang letih lenting yang ketakutan

“ayunan itukah menyambut tawa seorang bocah?”
pertanyaan itu tak selalu bisa dijawab seutas ayunan
kitalah bocah itu; yang sekarang harus menganyam, dan
memilin rencana: supaya asyik bergoyang — tak goyah

Kleco, 2017

Advertisements

Pathetic Jokes

1

sampai nama itu kutiup
ia masih kalam, di buku
yang sejak lama tertutup

lembar halaman baru
menolak nama-nama baru
bahkan nama yang aku

2

nama seperti kilan itu
jarak yang tak terdepa
ribuan resah dosa

yang menyeret adam
pelukan demi pelukan
dari surga ke hawa

3

tapi di pangkal puisi ini
nama tak menyentuh kita
sebab bunyi telah terkunyah

jadi renyuk suara, serupa
kering dedaunan gugur
yang diinjak kaki peziarah

Kleco, 2017

Overture

1

hidup kita sebatang sungai, dan mati
luas lautan di balik lembah-lembah nasib
maka lupakan sejenak kelir-kelir pemakaman:
nama, melati, juga pohon kamboja

2

kata-kata yang lelah, mengasah tajam waktu
maka mata usia biarkanlah semakin tumpul
seperti pasrah napas menjelang kematian

di atas ranjang, terbaringlah bahasa bunga
tak perlu kita hitung kelopak kata yang mekar
semut dan kupu-kupu paham rahasia nektar

3

hingga puisi menuliskan bait yang hidup
prasangka di hati kita akan terus menangis
airmata tumpah, mengaliri lekuk bahasa, dan
perahu karam kita hanya akan diziarahi ikan-ikan

Kleco, 2017

Empat Kisah dari Laut

“tapi, hanya pertanyaanku tak kembali…”

1

kelak bila laut memulangkan rindu
nyanyian para kelasi di buritan dahulu
tentu masih diingatnya sebagai sebuah sedih
dari konser yang tak ingin ia tonton

2

maka menepilah, wahai jung yang lelah
ribuan mil telah selesai menghitung
jatuh airmatamu; rasa garam yang sama
dengan tangis-tangis yang pernah hanyut

3

di telinga laut, suara tinggal kuyup
semua air adalah kata yang mengungkung
perahumu tak mungkin sampai ke tepi bahasa
yang belum mengenal wujud dermaga

4

tapi badai mana memilih perahu, selain
pada pengungsian yang dikisahkan kitab suci:
adakah ombak yang terlalu tua, bagi pasir
yang selalu gagal menangkap warna biru?

Kleco, 2017

Mitos Partitur, 1

: buat Esthi Ayu Febriani

1
sebermula adalah gugu
atas hitam dan putih nasib
pada panjang bilah piano
: di warna apa ia berhenti?

2
kau jauh mengerti, tentang
partitur yang seolah puisi
nada yang seolah silabis
juga aku yang seolah aku

3
ada denting yang kauseret
entah dari mol atau kres
: itu setengah mengertiku
yang menjelma dari bunyi

4
yang tak terlacak dari siapa
dulu terpahat di baris epitaf
yang tak terlacak dari suara
kausamarkan jadi kata-kata

5
betapa tinggi-rendah nada
seperti lenting tanda tanya
mungkinkah lengkung itu
muasal bentuk daun telinga?

2017

Malai Ombak

dengarkanlah. desir itu angin yang piatu
setiap pagi ia selalu mampir di haluan
menjemur mumur mimpinya yang basah

aku tak tega menolaknya. walau pelayaran
ke uban rambutku sering diserbu sakal
dan ngilu ini ia tumpuk di buritan

rahasiakanlah. bahwa mataku telah buta
tak ada kompas atau langit yang bisa kubaca
hanya kau kubiarkan menimangku begini

“dan pada laut ia menduga:
buih yang sampai di anjungan
apakah itu airmata, atau
lantun doa yang lupa ia ucapkan?”

2017