Nota 29: Lakon

1

“bahwa cinta bermula dari tafsir-tafsir kita.”

lihat, mataku api
lelatu yang menari
-nari, di panggung
kita yang terbakar.

2

tak ada tempat untuk lari
asap sudah lebih tebal
dari lipatan malam

“tak ada…”

kita tak bisa sembunyi
udara sudah dihabisi
napas-napas penonton

“kita tak…”

3

dan dari abu-debu itu
hanya tersisa sebuah tetapi;
lengkingan jerit di telinga
yang sangat panjang dan mengerikan
persis tafsir-tafsir kita atas cinta

: namun itu suara siapa?

2017

Alegori Gelembung Sabun

— di taman suropati
sebelum sore menjadi angin
ada yang memerangkap lengkungnya sendiri
di cembung gelembung sabun seorang bocah
: tak ada yang tahu kapan ia akan pecah
“dan itu taman rimba bahasa
namun bukan kamus yang sukarela
menyodorkan makna duga tafsir kita.”
2017

Saksi Mata

setelah suatu adegan bunuh diri
ada malaikat terkepung melankolia
ia terlunta di tajam mata pisau
yang telah kering darahnya

“antara aku dan plastik forensik
siapa yang paling pandai
mengetat-rapatkan rahasia?”

kematian tak boleh jadi rencana
: ujung jari semestinya tak bisa
meraba sidiknya sendiri

2017

Kelak Kau Akan Melupakanku

aku fragmen-fragmen dan metafora
tertinggal di puisi yang lupa kautuliskan
sampai ingatanmu jadi kecai-airmata
mumuran pagi yang pecah di mata-jendela

namun lupa akan mengingatkanmu
hingga namaku jadi sekerat cermin
memantulkan masalalu kita yang telanjang
sebelum kaukenakan gaun pengantinmu

“bukankah hidup memang pantulan-pantulan
bayangan hari-hari lalu yang ketakutan
mungkin pada bekas luka di wajah sendiri
yang disayat sepi-sunyi sendiri?”

2017

Lilin, 2

tahun-tahun itu tinggal asap
sejak namamu adalah lilin
maka terbakarlah itu
miniatur-miniatur doa

udara memikul gelembung nasib
waktu yang semakin memuai
kelak meletus seperti balon
yang selamanya tinggal empat

“tapi aku badut di pestamu itu
melipat-selipkan kenangan kita
jadi bulat-balon di perutnya
— tusuklah jika kauingin.”

2017